Ngaturaken ►►Namo Buddhaya Selamat Datang Welcome Sugeng Rawuh di Blog Sederhana ini_/|\_Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

28 October 2020

JEDA

Terkalahkan oleh hiruk pikuk media sosial, blog reot ini terlupakan, hampir tiga tahun ga pernah posting. Sesekali ingat kalau punya blog saat ada sms yang kebanyakan bertanya tentang hasil pengobatan alternatif yang pernah kucoba dulu sebelum memutuskan operasi. Tapi ya sekedar," Oh...ternyata masih ada yang baca blogku," dan tak punya tenaga untuk menulis lagi. Bukan tak punya tenaga sih sebenarnya, malas...lebih tepatnya. Karena selera berubah, sekarang lebih suka bicara lewat foto dan video.

Kelas 3 SD sudah membaca novel Siti Nurbaya, Anak Seorang Romusha, dan beberapa novel kelas berat lainnya, sehingga pernah bercita-cita jadi penulis. Ternyata sampai setua ini belum kesampaian. Nulis cuma sebatas status medsos.

Jaman dulu belum ada internet (listrik aja belum ada) di duniaku, nulisnya di diary warna-warni. Kenal komputer di STM, kenal internet jaman kuliah, kenal medsos jaman jadi guru. Komunikasi kembali dengan teman-teman STM waktu itu masih pake Milis (Mailing List) grup. Anak jaman now pasti ga ngerti Milis ya... Setelah itu ganti Yahoo Messenger untuk aplikasi chatting. Kemudian muncul Friendster FS), medsos paling hits kala itu, yang bisa ganti-ganti Theme dengan foto kita sendiri tapi harus pasang script. Buat yang sua nulis, Blog tentu saja adalah simbol eksistensi.

Sempat berjaya beberapa tahun, kemudian muncul Facebook (FB) dan akhirnya Friendster-pun tutup. FB-an sejak tahun 2009, dari jaman bahasa alay sampai bahasa kekinian masih bisa mengikuti. Inilah keuntungan dari bergaul dengan anak-anak (SMA), bisa cepat mengikuti perkembangan tren dunia maya. Berdampingan dengan aplikasi chatting milik Blackberry yang sempat berjaya kala itu, tapi kini sudah ditenggelamkan oleh aplikasi Whatsapp.

Sekarang, Facebook tak lagi diminati oleh remaja. FB hanya untuk kaum 'lansia' yang malas belajar aplikasi-aplikasi baru yang bermunculan. Remaja lebih suka Instagram yang lebih menjanjikan untuk kemudahan eksistensi diri, apalagi didukung dengan aneka macam filter kamera dan aplikasi editing foto yang sangat memanjakan nafsu mempercantik diri tanpa biaya. Popularitas adalah kekuatan pada masa kini. Follower yang banyak adalah modal untuk mendapatkan uang dari endorse dan influencer. Makanya Instagram (IG) menjadi segala-galanya bagi anak jaman now.

Jangan lupa dengan Twitter. Aplikasi ini bisa dibilang jadul tapi masih eksis sampai sekarang. Banyak dipakai oleh tokoh masyarakat dan politikus untuk menyampaikan pesan-pesannya dan respons terkait fenomena terbaru yang update sangat cepat. Saking cepatnya kadang...terjebak hoax.

Youtube sempat menjadi pemain tunggal di dunia per-video-an. Namun sekarang mulai banyak pesaing, salah satunya Vidio yang mirip-mirip dengan Youtube. Dan aplikasi belanja yang sangat banyak bermunculan dengan tagline dan kode warna masing-masing, ada toko hijau, toko orange, dll.

Game Online? Adalah salah satu yang sangat digandrungi jaman sekarang tanpa pandang usia. Anak-anak banyak yang sukses jadi game streamer.

Yah, demikianlah kehidupan masa sekarang. Dunia maya bukan hanya milik anak muda. Buktinya ada nenek-nenek yang sukses jadi Youtuber, Mbah Minto salah satunya yang sekarang sangat terkenal dan mengalami perubahan ekonomi yang luar biasa. Bayi-bayi juga banyak yang sukses menghasilkan uang dari dunia maya. Lalu posisi kita dimana?

Orang yang baru kenal internet (pemula/newbie) cenderung menggunakannya hanya untuk senang-senang, melihat-lihat sesuatu yang sebelumnya tak bisa dilihat (Apakah itu? Hmmm...). Pengguna di level menengah menggunakan internet untuk memperlancar pekerjaan. Pengguna level tinggi menggunakan internet untuk menghasilkan karya.

Bagiku? Internet sepenting nafas, bukan sekedar alat komunikasi, duniaku ada di dalam internet. Pekerjaanku ada di sana (Google Classroom, Edmodo untuk ngajar, Webex, Zoom, Google Meet untuk rapat-rapat, Youtube untuk sharing video dan cari tutorial, Online banking untuk terima gaji dan kemudian forward bayar tagihan, Drive untuk penyimpanan data, Facebook untuk baca cerpen, cerbung, nonton drakor, curhat alay, Instagram untuk pamer foto, Twitter untuk baca berita cepat, dan masih banyak lagi.

Apakah bisa berhenti menggunakan internet? Bisa. Seperti akhir-akhir ini, ketika mata sudah mulai bertambah rabun dan sakit saat bercengkrama dengan layar biru. Mau tak mau harus ambil JEDA. Bukan berhenti, hanya istirahat sejenak. Memandang cucian kotor, lantai berdebu, tanaman layu, dan aneka pemandangan lainnya.

Inilah hidup.

23 January 2018

Lelaki Hebat

Ultraman Kribo, panggilan kesayanganku pada si kecil, hari ini benar-benar bikin meleleh bahagia. Ceritanya tadi aku pura-pura pengen main game tapi ga tau caranya. Aku merengek-rengek dengan gaya dia, eh...ga nyangka dia malah menunjukkan sikap 'sok dewasa'nya. Bayi kecilku ini tiba-tiba berlagak jadi guru dan ngasih tutorial cara main game dan trik-triknya. Hmmm...tadinya aku kira dia yang biasanya pelit ga akan kasih aku pinjam hpnya. 

Setelah pura-pura kalah dan menyerah main game-nya, aku bilang mau tidur tapi harus gosok gigi dulu. "Dek, Ibuk mau gosok gigi tapi Ibuk takut ada suster ngepot..." Dia bilang, "Ayo Adek kawanin, Adek juga nak gosok gigi." Yess, kena juga. Biasanya ga pernah mau disuruh gosok gigi malam, jangankan gosok gigi, ambil minum di kulkas aja sering dia males...bilang Adek capeklah, apalah...eh kini dia sukarela.

Adegan berikutnya adalah kelonan. Di adegan ini dia kembali jadi bayi manja. Minta dinyanyikan lagu Buddhis Selamat Tidur Sayang berulang-ulang. Karena mulut capek (maklumlah bukan penyanyi), akhirnya perekam suara yang bekerja membuai telinganya dengan suara merduku yang seperti diva kelas coro, xixixi.

Dan di saat melihatnya tertidur di pelukan seperti ini mulailah dilanda baper emak-emak. Menatap wajah lucunya, kepikiran kelak dia akan jadi seperti apa? Apakah hidupnya nanti akan bahagia? Apakah dia akan memiliki pasangan yang membahagiakan? Memiliki keluarga yang membahagiakan?

Dengan segala kerapuhan tubuhku ini, aku hanya bisa berharap semoga punya sisa usia untuk menemaninya sampai dia dewasa. Untuk melihatnya bahagia. Untuk menopangnya ketika dia lemah. Sebab hidup tak pernah ada yang sempurna, selalu ada saat kita lemah, jatuh, sakit, terluka...yang membutuhkan seseorang untuk sekedar menyandarkan kepala. Semoga engkau menemukan orang-orang yang akan menyayangimu dengan tulus Nak.

Dan, jadilah lelaki hebat seperti satu-satunya lelaki yang kucintai namun terlalu cepat pergi bahkan ketika usiaku belum 13 tahun. Lelaki sederhana yang selalu bersedia mengalah, mendahulukan kepentingan saudara-saudaranya, yang mampu "menghidupi" kami bahkan ketika sudah tiada.

Janganlah jadi laki-laki pecundang, seperti banyak lelaki yang kutemui sepanjang hidupku. Lelaki yang selalu meminta dan terus menikmati darah dan keringat perempuan tanpa tahu malu, lelaki penipu yang hanya inginkan uang perempuan, lelaki pemalas yang hanya ingin numpang hidup di rumah perempuan, lelaki pembohong yang tidak menepati janji, lelaki jahat yang memanfaatkan ketidaktegaan perempuan untuk keuntungannya sendiri, lelaki bodoh yang tidak punya inisiatif dan malas belajar, lelaki tidak peka terhadap sekelilingnya, dan banyak lagi jenis lelaki jahat di dunia ini. 

Nak, jadilah lelaki hebat, yang tak pernah membuat seorang perempuan menangis.

12 September 2017

Dana Makanan

# Ingin makmur di semua kehidupan ? #

🌺 DANA MAKANAN 🌺

Suatu ketika, Bhagava tengah berdiam di antara kaum Koliya, di sebuah kota yang disebut Sajjanela. Suatu pagi Bhagava mengenakan jubah, membawa mangkuk dan jubah luarnya, lalu pergi menuju kekediaman Suppavasa, seorang perempuan Koliya. Setelah tiba di sana, Beliau duduk di tempat duduk yang telah disiapkan bagiNya. Sang perempuan Koliya, Suppavasa, melayani Bhagava dan menghidangkan aneka jenis makanan lezat.

Seusai Bhagava makanNya dan telah menjauhkan tanganNya dari mangkuk, sang perempuan Koliya, Suppavasa, duduk di satu sisi, dan Bhagava berkata kepadanya seperti berikut:
“Suppavasa, dengan memberikan makanan, seorang siswa suci perempuan memberikan empat hal kepada mereka yang menerimanya. Apakah keempat hal itu? Ia memberikan usia panjang, kerupawanan, kebahagiaan, serta kekuatan.

Dengan memberikan usia panjang, ia sendiri akan terkaruniai usia panjang, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kerupawanan, ia sendiri akan terkaruniai kerupawanan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kebahagiaan, ia sendiri akan terkaruniai kebahagiaan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kekuatan, ia sendiri akan terkaruniai kekuatan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan makanan, seorang siswa suci perempuan memberikan keempat hal tersebut kepada mereka yang menerimanya.”
 (Aṅguttara Nikaya 4:57, II 62-63)
Betapa mengagumkannya penjelasan dari Buddha kepada Suppavasa tentang persembahan makanan. Persembahan makanan sangat dipuji, karena pendonor dan penerima akan mendapat empat hal seperti yang telah disebutkan dalam sutta di atas, yaitu:

Usia panjang (ayu)
Kerupawanan (vanna)
Kebahagiaan (sukham)
Kekuatan (balam)

Jadi bagi mereka yang ingin mencapai empat hal tersebut sebaiknya melakukan persembahan makanan secara rutin baik kepada Bhikkhu Saṅgha, atau siapapun yang mau menerimanya, bahkan, janganlah meremehkan buah dari menyendokkan sesendok nasi untuk orang tua atau saudara anda. Persembahan makanan juga bisa membawa tercapainya cita-cita luhur. Di masa lampau pada masa Sasana Buddha Kassapa yaitu Buddha yang muncul sebelum Buddha kita sekarang, Buddha Gotama. Cerita tersebut diawali dari sepasang suami-istri.

Ketika sebuah pagoda (Stupa) dibangun untuk menyimpan relik Buddha Kassapa, laki-laki dan perempuan dari Baranasi pergi dalam kelompok-kelompok besar menuju tempat pagoda itu dibangun untuk menyumbangkan tenaga sambil membawa makanan dalam kereta-kereta mereka. Dalam perjalanan itu mereka berjumpa dengan seorang Thera yang memasuki kota untuk menerima derma makanan.

Pada saat itu, sang istri memerhatikan sang Thera dan memberitahu suaminya, “Suamiku, Thera ini sedang menerima derma makanan; pergilah ambil mangkuknya agar kita dapat mendanakan sesuatu kepadanya; kita membawa banyak makanan di dalam kereta kita.” Laki-laki itu pergi dan mengambil mangkuk bhikkhu tersebut dan setelah mengisinya dengan makanan keras dan lunak hingga penuh, mereka mengembalikannya kepada sang Thera dan kedua suami istri tersebut mengucapkan keinginan mereka,

“Thera yang mulia, berkat jasa ini, semoga kami berdua terberkahi dengan pengetahuan adi duniawi yang telah engkau capai.”

Penerima dana makanan itu bukanlah seorang bhikkhu biasa; ternyata beliau adalah seorang Arahanta. Ia mengetahui, melalui Anagata Ñana, pengetahuan akan masa depan, bahwa keinginan mereka akan terpenuhi dan oleh karena itu ia tersenyum bahagia. Si perempuan sekilas menangkap senyum itu dan ia berbisik, “Suamiku, si Thera yang menerima dana kita mungkin seorang aktor.” Si suami menyetujui dengan berkata, “Ya, ia mungkin seorang aktor.” Kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Inilah perbuatan yang dilakukan oleh suami istri itu pada masa lampau.

Pasangan itu hidup hingga akhir umur kehidupan mereka dan kemudian terlahir di alam dewa. Setelah menikmati kehidupan sebagai dewa, si istri terlahir kembali sebagai putri pemimpin akrobat dalam kehidupannya sekarang. Sedangkan si suami terlahir sebagai putra seorang kaya dalam kelahirannya yang terakhir, bernama Uggasena.

Meskipun terlahir sebagai putra seorang kaya, ia harus mengikuti kelompok pemain akrobat dalam pengembaraannya, sebagai akibat dari perbuatan jahatnya mengucapkan kata-kata yang salah “Ya, ia mungkin seorang aktor” yang ditujukan kepada Bhikkhu Arahanta dalam kehidupan lampau. Tetapi sebagai akibat atas kebajikan memberikan dana makanan kepada seorang Arahanta dengan penuh keyakinan, ia berhasil mencapai kesucian Arahanta.

Ketika Uggasena mencapai kesucian Arahanta dan menjadi “ehi-bhikkhu“, istrinya, si aktris muda berpikir, disadarkan oleh jasa kebajikan masa lampau, “Secerdas apa pun suamiku, kecerdasanku harus menyamainya.” Dengan alasan demikian, ia mendatangi para bhikkhuni dan menerima penahbisan dari mereka. Kemudian ia berusaha keras mempraktikkan Dhamma, dan akhirnya ia juga berhasil mencapai kesucian Arahanta, setelah melenyapkan asava (kotoran batin).

Kita juga bisa meneladani pasangan suami-istri tersebut. Dengan rajin melakukan persembahan makanan kepada Bhikkhu Saṅgha dan kepada siapapun yang membutuhkan persembahan kita. Maka kita akan berbahagia dalam masa yang panjang, baik di alam manusia ataupun dewa. Kita akan berkecukupan dan menikmati empat kualitas tersebut hingga terbebasnya kita dari roda tumimbal lahir ini dengan mencapai tingkat kesucian Arahat.  Walau tentu selain berdana ada tahap-tahap lain yang perlu kita tunaikan untuk dapat menikmati Buah Arahanta.

Apa yang anda cita-citakan?
Semoga cita-cita luhur anda dan saya segera tercapai.

____________________________
Semoga anda mencapai kebahagiaan Nibbana
Forwad BC Dhamma ini kesemua teman Buddhist anda melalui FB, Wa, etc
Karena persembahan Dhamma adalah persembahan tertinggi.
Persembahan Dhamma akan berbuah kebijaksanaan bagi pemberi dan penerima

Semoga kita semua hidup bahagia. 🙏🏻.

07 September 2017

Dhammapada ayat 71 tentang orang bodoh

Dhammapada.
BAB V. BALAVAGGA - Orang Bodoh.

(71). Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.

Dhammapada Atthakatha:

(71) Kisah Ahipeta.

Murid utama Sang Buddha, Maha Moggallana Thera sedang dalam perjalanan untuk menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera di Rajagaha. Ketika melihat sesuatu, beliau tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Setelah tiba di vihara, Maha Moggallana Thera memberitahu Lakkhana Thera, bahwa beliau tersenyum karena melihat makhluk peta (hantu kelaparan) dengan kepala manusia dan bertubuh ular.
Sang Buddha kemudian berkata bahwa beliau sendiri telah melihat makhluk peta tersebut pada saat Beliau mencapai Penerangan sempurna. Sang Buddha juga menerangkan bahwa di waktu yang lampau, ada seorang Paccekabuddha yang dihormati oleh banyak orang. Orang-orang pergi mengunjungi pondok kediaman beliau harus melalui sebuah ladang. Pemilik ladang tersebut khawatir ladangnya akan rusak disebabkan oleh banyak orang lalu lalang pergi ke pondok, membakar pondok itu. Akibatnya Paccekabuddha itu harus berpindah ke tempat lain. Murid-murid Paccekabuddha menjadi sangat marah kepada pemilik ladang tersebut, mereka memukuli dan membunuhnya.

Pemilik ladang itu dilahirkan kembali di neraka Avici. Kelahirannya saat sekarang ini sebagai makhluk setan, merupakan akibat dari perbuatan buruk yang telah ia lakukan pada masa lampau.

Pada akhir penjelasannya, Sang Buddha berkata, "Sebuah perbuatan buruk tidak langsung berbuah, tetapi akan selalu mengikuti si pembuat kejahatan. Tidak ada yang dapat melarikan diri dari akibat perbuatan jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na hi pāpaṃ kataṃ kammaṃ
sajju khīraṃva muccati
dahantaṃ bālam-anveti
bhasmacchanno’va pāvako."

Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.
Šαϑhΰ...Šαϑhΰ...Šαϑhΰ...

11 August 2017

Kotbah tentang Paticcasamuppada

SN 12.1 Kemunculan Bergantungan
(Kelompok Khotbah tentang Penyebab)

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kalian tentang kemunculan bergantungan. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan berbicara.”—“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Dan apakah, para bhikkhu, kemunculan bergantungan?
*Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak muncul ;
*dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran muncul;
*dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-rupa;
*dengan nama-dan-rupa sebagai kondisi, enam landasan indria muncul ;
*dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak muncul;
*dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul;
*dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul;
*dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul;
*dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul;
*dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul;
*dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul.
Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan. Ini, para bhikkhu, disebut kemunculan bergantungan."

-“Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak;
-dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, lenyap pula kesadaran;
-dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula nama-dan-rupa;
-dengan lenyapnya nama-dan-rupa, lenyap pula enam landasan indria;
-dengan lenyapnya enam landasan indria, lenyap pula kontak;
-dengan lenyapnya kontak, lenyap pula perasaan;
-dengan lenyapnya perasaan, lenyap pula ketagihan;
-dengan lenyapnya ketagihan, lenyap pula kemelekatan;
-dengan lenyapnya kemelekatan, lenyap pula penjelmaan;
-dengan lenyapnya penjelmaan, lenyap pula kelahiran;
-dengan lenyapnya kelahiran, lenyap pula penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan.
Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”

Ini adalah apa yang dibabarkan oleh Sang Bhagavā.
Para bhikkhu itu gembira , senang mendengar ajaran Sang Bhagavā.
--------------
Inilah Pelajaran Paticcasamuppada 12 atau 12 Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan.

Hukum di atas ini disebut Makhluk. Karena Hukum ini berada dalam diri Makhluk.

Semoga kita semua terbebas dari Hukum ini sehingga mencapai Kebebasan Mutlak atau Nibbana.

"NIBBANAM PARAMAM SUKHAM" : Nibbana adalah Kebahagiaan Tertinggi. Sadhu🙏.

04 February 2017

Surga kecil itu bernama Pasumpahan

Tahun 2016 baru saja berlalu, entah berapa kali perjalanan kerja yang sudah kulalui sepanjang 2016, perjalanan kerja terbanyak yang pernah kudapatkan, gratis dari Negara Indonesia tercintaah... yeayyy.

Melihat-lihat kalender 2017, ada tanggal merah di bulan Januari. Yeahh...hari yang paling indah adalah hari libur. Tapi kemana? Ngapain? Seketika angin surga berhembus mesra, ketika Bos Cantik mengirimkan bisikan jalan-jalan ke sebuah pulau di Sumatra Barat. Ok... lets go!

Dan di hari yang disepakati, kami memulai perjalanan itu. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan dan sedikit membosankan karena yang terlihat hanya pepohonan karet di sepanjang perjalanan. Berstirahat sejenak untuk mengobati rasa lapar para pasukan, makan siang di rumah makan Salero Kampung.


Jam 10 malam sudah sampai kota Padang, dapat tumpangan gratis dari keluarga Rini. Mengistirahatkan jiwa dan raga sepenuhnya, tak sadarkan diri sampai pagi. Setelah sarapan (gratis) di rumah Rini, pasukan melanjutkan perjalanan ke pulau.

Perjalanan yang sungguh tak terduga, karena ternyata akses ke pulau yang dituju harus melalui jalan yang super terjal dan berliku. Woww...ini benar-benar My Trip My Adventure. Jantung rasanya mau copot melalui medan, saking tegangnya sampai tidak sempat mengabadikan medan yang dilalui. Pikirannya udah takuuuttt ajah, takut masuk jurang... ughh.

Cerita selengkapnya biar kami simpan dalam kenangan aja, yang jelas akhirnya kami sampai di pulau Pisang. Dan dari sini semuanya terasa indaaaahhhh

Menuju boat yang kami sewa untuk menyeberang ke pulau Pasumpahan. Harga sewa Rp 35.00 per kepala


 20 menit kemudian, sampailah kami di sebuah surga kecil nan indah yang bernama Pasumpahan.

 Beberapa spot foto yang ikonik banget kalo kalian googling Pasumpahan. Jangan sampai tidak berfoto di situ ya...






Dan, ini adalah wujud surga itu... Dari segala arah memandang, semua hanya keindahan yang terhampar. Air yang sangat jernih dan bersih, dan perpaduan warna yang sangat indah, Air, pepohonan, dan langit = indah.









Buat kalian yang ngaku traveler atau backpacker, jangan ke luar negeri kalo belum kesini ya....! Indonesia sangat indah, mari kita cintai alam Indonesia.

08 September 2015

12 August 2015

Hari Kemerdekaan

Agustus adalah bulan keramat bagi bangsa Indonesia. Saatnya mengingat kembali momentum kemerdekaan yang dihadilkan dari tetesan darah para pendahulu kita. Bapakku bukan seorang tentara, tapi aku bisa membayangkan  bagaimana rasanya ditinggal seorang ayah yang sedang di medan laga.

Jaman masih SD dulu, aku paling suka baca buku (sekarang baca hp...xd), salah satu buku yang sangat berkesan adalah "Anak Seorang Romusha", sudah lupa karya siapa, tapi dari buku itu aku jadi tahu bagaimana beratnya hidup pada masa itu.

Kini sudah jaman merdeka, 70 tahun Indonesia, tetapi benarkah sudah merdeka? Kemerdekaan seperti apa yang sudah kita capai? Merdeka dari penjajahan? Kayaknya belum merdeka tuh, secara fisik memang tidak dijajah, tapi semua aspek kehidupan kita tergantung pada negara lain. Bahkan sebatang pena yang harga seribuan saja madih ada tulisan "made in china". Kebutuhan dasar selain sandang dan pangan yang juga dikuasai merk luar negeri adalah hp. Hp adalah kebutuhan pokok di masa kini, semua orang punya hp minimal satu, bahkan bayi dan balita saja punya hp. Hp merk lokal masih terseok-seok bersaing di pasaran. Belum lagi film, makanan, fashion, dll.

Masih banyak PR kita sebagai rakyat Indonesia untuk bisa benar-benar "merdeka". Semoga kemerdekaan itu bisa benar-benar segera terwujud, dan Indonesiaku menjadi negara yang mandiri dan bermartabat.

Semoga para pemimpin bangsa ini benar-benar berlaku adil, tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Sabbe satta bhavantu sukhittata. Sadhu sadhu sadhu

01 May 2015

My Achievement: Bisnis Mudah CMN Moorflie

Bulan April menjadi bulan yang penuh berkah. Mau tau ceritanya? Simak ya...

Pertengahan Maret lalu, seorang teman mengajak gabung di CMN Moorlife. Sebenarnya ga terlalu antusias sih, selain gak kenal produknya, gak tau sistemnya, emang aku suka angin-anginan kalo soal bisnis. Berhubung yang ngajak adalah istri bos di vihara tempatku mengabdi, makanya kuputuskan join ajalah gak rugi juga kan dapat produknya.

Sampai akhir bulan belum beraksi apa-apa, hanya sempat lihat-lihat katalog tapi belum mulai jualan. Nah, di awal April, waktu aku datang ke stokis waktu mau beli barang, dapat katalog promo. Lihat ada promo yang heboh-heboh...hmm mulai deh semangat jualannya menyala. Aku posting di grup bbm, di fb, dan blog. Sengaja aku kasih harga termurah, selain dari diskon member, aku tambahin dari bonus promo, akhirnya banyak yang minat beli. Bahkan sampai detik-detik terakhir mau ditutup promonya masih ada yang mau order, sayang udah gak terkejar ke stokisnya.

Yuhuu... hitung-menghitung, ternyata bulan April omset penjualanku mencapai 9 juta...woww. Gak nyangka bangetttss. Dari iseng-iseng akhirnya jadi 'berhadiah'. Hadiahnya banyak banget....sumpah!! Nih kupamerin ya...
  1. Setiap kelipatan 1 juta dapat 1 pcs Toples Vaso (warnanya Ok banget...Ungu-pink, dapat 9 biji, hmm lumayan buat Waisak nanti dipamerin di meja tamu)
  2. Setiap kelipatan 1,75 juta dapat Voucher Rp140.000 (dapat 5 Voucher = Rp 700.000. Berarti udah balik modal dong ya...)
  3. Bulan April berhasil rekrut 3 orang, dapat hadiah 3 medium bowl....asyeekk.
  4. Karena memberku udah 4 orang, maka aku bisa jadi Head. So...bulan depan sudah berhak menikmati bonus 1,5% dari omset seluruh memberku (lumayan buat jajan)
Ok fixed, jadi bulan ini semangat kerja keras biar bisa ikut ke Thailand, Sadhu!!!

Hayuukk, yang pengen menikmati bonus-bonus sepertiku, jangan ragu untuk gabung ke CMN. Mau tau caranya agar bisa join tanpa modal? Atau mau tanya-tanya dulu juga boleh...Hubungi no kontakku ya

Kuntari - Hp.081366310605 - Pin 51B10BCF

25 February 2015

Tahun Baru yang Tertunda

Pagi yang cerah di hari Rabu, santai sejenak sambil nungguin si kecil yang masih bobo', mumpung gak ngajar jam pertama iseng surfing kesana kemari akhirnya menclok di blog reyot ini...
Setahun full tidak posting satupun, terkadang rindu juga, tapi apa daya... kesibukan dunia nyata begitu menyita waktu dan tenaga. Setiap kali tiba di rumah, tubuh sudah terkalahkan oleh gravitasi, ingin segera nyungsep ke kasur dan zzzz....
Namun, rasa syukur tak henti kupanjatkan, mengingat setahun yang lalu hari-hariku dipenuhi kegalauan terhadap penyakit yang menggerogoti tubuh. Akhirnya dapat menikmati kedamaian terbebas dari kista mesentrium. Saking merasa bebasnya sampai kebablasan tidak bisa menjaga berat badan dan wiuuzzz....I'm 55 kg now! 
Setahun ini aku mengalami transformasi bentuk tubuh tang luar biasa. Efek samping dari  konsumsi vitamin pasca operasi plus gangguan hormon, akhirnya berat badan tak terkendali. Ya sudahlah...dinikmati saja. Ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus kulalui. Nikmati hidup yang ada, kekhawatiran hanya akan mengurangi kebahagiaan hidup yang singkat. Tak tahu umur akan sampai dimana, jalani saja dengan bahagia. Right?

19 February 2014

CTScan Abdomen di RSD Raden Mattaher

Rabu pagi, siap meluncur ke RSD untuk CTScan sesuai dengan jadwal yang diberikan dari loket radiologi. Sudah berpuasa dari setelah makan malam jam 7 kemaren, si lambung mulai merintih. Sudha hampir jam 8 si Abhim belum bangun juga, akhirnya angkat aja sama iler-ilernya...:D, masuk ke mobil akhirnya dia terbangun juga. Dibawa ke rumah keduanya, dia rewel ga mau turun, akhirnya harus bujuk rayu dulu sekitar lima belas menit, plus mandiin Abhim karena dia belum mandi.

Sampai di RSD jam 9 pas. Menuju loket, menyerahkan berkas, dan duduk manis menunggu panggilan. Tiga puluh menit kemudia dipanggil untuk tanda tangan surat pernyataan. Duduk lagi. Lima belas menit kemudian dipanggil untuk menyerahkan Buavita. Sengaja kubawa empat kotak yang ukuran 250ml (padahal cuma disuruh bawa 2 kotak), kuserahkan semua, sisanya buat mas penjaga loket dan petugas lain (buat sogokan...:D).

Lima menit kemudian satu kotak Buavita yang sudah ada bekas tusukan jarum suntik dikeluarkan dari loket, disuruh minum sampai habis. Tegukan pertama langsung disergap rasa...pahitttt. Ternyata sudah dikasih obat (Yodium?). Teguk demi teguk kunikmati dengan ekspresi yang khas, akhirnya habis juga. Dikasih info tambahan, kalau terasa mau pipis harus ditahan, tapi tidak ada rasa ingin pipis karena emang dari tadi belum minum.

Menunggu 45 menit, akhirnya dipanggil ke pintu satu. Brrr...ruangan yang dingin menyambutku. Petugasnya hanya satu, seorang ibu menyambutku, memberi instruksi agar aku berbaring di meja elektrik. Tidak ada instruksi buka baju (padahal di blog-blog yang kubaca harus buka baju...?). Celana panjang harus diturunkan sebatas lutut karena ada logamnya di bagian retsleting. Berselimut putih garis-garis aku berbaring agak 'ngeri'. Kutanya, "tutup mata atau buka mata bu?" Ibu petugas bilang boleh buka boleh tutup matanya. Trus kutanya lagi, "bahaya dak bu?" Ibu itu menjawab, "tidak, cuma difoto aja.."Weeeww, cuma difoto katanya. Kenapa tidak ada penjelasan tentang efek samping dari pemeriksaan ini? Padahal kan ada efek samping dari radiasinya.

Beberapa menit kemudian, mejanya sudah bergerak ke atas dan petugasnya keluar ruangan. Kalo gak bahaya, ngapain petugasnya gak disitu aja hayooo...? Meja bergerak menuju terowongan, aku memilih menutup mata demi amannya. Ternyata benar, ada sinar merah yang menyilaukan (walaupun sudah tutup mata), dan ketika terakhir kulihat memang ada tulisan disitu agar tidak menatap ke arah sinar itu pada saat menyala. Tuh kan? Untung aku tutup mata.

Badanku yang diikat di meja elektrik itu bergerak maju perlahan dan kemudian ada instruksi dari intercom agar aku menarik nafas, keluarkan...dan tahan.....! Agak lama sampai ada instruksi lagi untuk 'nafas biasa'. Ada sekitar tiga kali tahan nafas, yang terakhir agak lama tahan nafas dan aku sudah tak tahan akhirnya 'mencuri' nafas...hehe

Sekitar 20 menit proses itu, kemudian pintu dibuka. Beberapa orang masuk membawa alat suntik. Petugas menyuntikkan cairan kontras (yodium) ke lengan kananku, mengatur tanganku agar lurus ke atas kepala,  memberi 'kode' ke dokter radiologi di balik ruangan, dan kemudian mereka buru-buru kabur dari ruangan itu... nah lo! Pemeriksaan sekali lagi, masuk ke terowongan dan selesai. Mereka masuk lagi, mencabut jarum, menempel plester dan pergi, tinggallah aku sendiri lagi. Masih ada lagi?Oh rupanya sudah selesai. Petugas pertama datang memberi tahu kalau sudah selesai dan membuka ikatan tubuhku. Ternyata hasilnya baru bisa diambil keesokan harinya sekitar jam 10.



Rujukan ke RSD Raden Mattaher

Senin pagi, sesuai plan adalah ke RSD Raden Mattaher untuk menjalani CTScan berdasarkan rujukan dari dokter Ivan dari RS Abdul Manap. Jam 10 pamitan dengan piket, kali ini diantar suami, meluncur ke RSD. Karena sudah berkali-kali menjadi pasien, sudah cukup tahu prosedurnya. Pertama ke loket Askes (BPJS) untuk dapat legalisasi. Mengantri setengah jam-an, akhirnya selesai. Kemudian mengambil nomor antrian Medical Record (harusnya tadi ambil nomor dulu...). Ternyata jauh banget, 100 nomor lagi baru nyampe ke nomorku. 

Satu jam lebih mengantri pengambilan medical record, lanjut ke antrian poli bedah. Masuk pintu 1 untuk meletakkan berkas, tunggu panggilan untuk wawancara, kemudian antri lagi untuk panggilan dokter. Masuk ke pintu dua, ternyata dokter yang bertugas adalah Pak (dokter) Erdiyanto yang sudah sangat kukenal di vihara. Diperiksa sebentar kemudian dibuatkan rujukan ke radiologi untuk CTScan. 

Mendaftar di loket radiologi, sudah tutup karena memang sudah jam 12-an. Tapi kemudian aku tanya soal prosedur CTScan, akhirnya si Mas mau menerima kertas rujukanku dan dibawa ke 'dalam'. Keluar lagi dengan coretan untuk datang pada hari rabu tanggal 19 dengan membawa dua buah 'Buavita' rasa jambu.

Buavita? wah enak tuh..! Apakah cairan kontrasnya pake Buavita? Maybe. Padahal yang kubaca di blog-blog, cairan kontrasnya adalah barium atau yodium yang rasanya bikin eneg  atau pahit. Atau untuk penghematan? Gak tau juga alasannya

Rujukan ke RSU Abdul Manaap

Kamis kemarin tanggal 17 Februari 2014 aku melangkahkan kaki ke RSU Abdul Manap yang menjadi RS rujukan masyarakat Jambi pemegang kartu BPJS (Askes) dengan berbekal secarik kertas yang telah ditanda tangani dokter di Puskesmas Payo Selincah. Sekali jalan mengantarkan Tara berangkat sekolah, jam 7 pagi sudah sampai simpang Mayang. Sebenarnya sudah janjian dengan si jelek :p Desi Asmara yang berjanji akan menjadi penunjuk jalan, tapi ternyata dia belum siap. Ya sudah, jalan sendiri aja...walaupun galau di hati :(

Jam 8 loket pendaftaran baru buka, untunglah tidak seramai RSD, menuju pendaftaran/pengambilan Medical Record, kemudian duduk manis di depan Poli Bedah. Petugasnya baru siap-siap, menata meja, kursi, buku besar, dll. Nomor antrian 2, diwawancara oleh petugas administrasi poli kemudian mengantri untuk ketemu dokter. Ternyata dokter yang di dalam bukan dokter spesialisnya. Anamnesis dengan dokter cewek kemudian diberi surat untuk periksa darah. 

Menuju lab, mendaftar, kemudian duduk dan siap ditusuk di lengan kiri. Dapat info hasilnya diambil setelah dua jam. Dua jam mau ngapain? Menimbang-nimbang sebentar akhirnya keluar dan melangkah ke sebuah warung gado-gado. Lagi asyik makan, tiba-tiba terdengar lagu Indonesia Raya, rupanya tetangga menggunakan lagu kebangsaan itu sebagai nada panggilan. Pelecehan? Maybe... Setahuku, lagu kebangsaan tidak boleh sembarangan diperdengarkan. Jika menjadi nada panggilan, artinya lagu itu bisa 'berdering' dimana saja, gimana kalo pas di (ups) toilet...?

Masih ada waktu satu jam setengah, akhirnya kuambil motor dan melaju pelan mencari tempat refleksi. Ternyata tak jauh dari situ ada tempat refleksi dan shiatsu, langsung kuparkir, mendaftar, dan mencoba menikmati service si mbak terapisnya. Sebenarnya agak kurang nyaman karena selain tempatnya yang kotor dan berbau 'tengik', ada suara bising dari ruko sebelah yang sedang membuat sumur bor. Tapi sudah terlanjur masuk ya sudah, nikmati apa yang ada. Pijatannya sih lumayan terasa, cuma kurang nyaman tempatnya aja.

Jam 11 pas selesai shiatsunya, bayar 70.000 dan langsung ngacir ke lab untuk ngambil hasilnya. Segera kubawa ke poli bedah. Oleh dokternya aku dibawa menghadap dokter spesialisnya di lantai dua. Masuk Operation Theatre yang suasananya agak 'aneh' karena terdengar bising suara game atau PS gitu...dan juga musik. Diperiksa sebentar kemudian disuruh nunggu di depan poli. 

Pulang membawa surat rujukan ke RSD untuk melakukan CTScan abdomen. Salah satu baris kata-kata yang sempat kubaca adalah pada bagian diagnosisnya: Tumor Abdomen. Weeeww...berubah statuskah? Jika kemarin hanya kista, sekarang sudah menjadi tumor. Sebuah kata yang bikin galau...

13 February 2014

Akupresur Hokian Shaolin Shi

Vonis operasi dari dr. Nadrizal, Sp.PD membuat hari-hariku cukup galau. Operasi lagi? Sudah tiga kali terkapar di meja operasi masih belum cukupkah? Pertama operasi kuret denga bius total tahun 2003, yang kedua operasi caesar darurat saat kelahiran Tara tahun 2004, dan dua tahun yang lalu caesar kedua saat kelahiran Abhimku. Di bulan ulang tahun kedua anakku ini (Februari) haruskah aku berbaring lagi di meja operasi? Jawabannya: aku belum siap.

Dapat saran dari teman sekerja, Herli Agustina yang sembuh kista di rahimnya berkat Akupressur, akupun mencoba melangkahkan kaki kesana. Diterima dengan ramah oleh CS-nya, dapat penjelasan tentang pantangan-pantangan makanan selama terapi dan juga biayanya. Sekali terapi 90 ribu untuk akupresurnya, bagi penderita benjolan-benjolan (tumor, kista, dkk) ditambah dengan chikung yang biayanya 50 ribu, jadi total Rp 140.000 sekali terapi. Jika mengambil paket 10X dapat bonus satu kali. Jadi aku ambil paket 10X bayar 1 juta hari itu, sisanya yang 400 ribu bayar esok harinya karena hari itu bawa duitnya cuma sejuta.

Terapi pertama, masuk ke ruangan yang cukup nyaman, ada tiga kasur lantai plus bantal terbentang di ruangan itu. Udaranya cukup sejuk karena pake AC dan samar-samar tercium wangi aroma therapi dari massage cream-nya. Hmmm....tidak mengerikan. Datang terapisnya, ternyata laki-laki, kupikir jika pasiennya perempuan maka terapisnya juga perempuan, ternyata di situ berlaku nomor giliran, pas giliranku dapat yang laki-laki. Its ok...anggap aja seperti dokter, tujuannya kan berobat :D

Tusukan pertama dari kayu ebony tumpul yang diarahkan ke titik-titik di telapak kaki menimbulkan sensasi yang luar biasa (sakitnya). Untunglah aku sudah mengenal cara kerjanya, walaupun sakitnya memang tidak biasa, karena biasanya hanya pakai tangan, sedangkan ini pakai kayu. Dimulai dari kaki kanan, dari ibu jari sampai kelingking, kemudian ke area tengah telapak kaki, dan tumit. Masing-masing titik yang ditusuk menghasilkan sensasi yang berbeda-beda, tergantung parah tidaknya kerusakan organ tubuhnya. Yang paling sakit adalah bagian THT dan lambungku...auuww...awww rasanya, perpaduan antara  ngilu, panas, gatal, tergigit, kesetrum, dll. Pokoknya...rasa yang luar biasa.

Setelah lima belas menitan di kaki kanan, pindah  ke kaki kiri dengan urutan tusukan yang sama, tapi rasanya ternyata sedikit berbeda, entah kenapa, kaki kiri tidak sesakit kaki kanan. Selesai kaki kiri barulah menikmati bonusnya. Bonusnya pijat plus totok. Pijat dari kaki sampai paha atas, kemudia pindah ke tangan kanan dan kiri, kepala dan wajah, setelah itu punggung. Hmmm, bonusnya ini yang enak, sayangnya cuma sebentar, tidak sebanding dengan sakitnya...hehe maunya

Selesai akupresurnya, aku dioper ke terapis cewek untuk menjalani terapi chikung. Terapisnya lagi hamil, wah...ga pa pa nih? Agak ngeri juga sih. Sebelum mulai, berdoa dulu ya...! Dan mulailah proses chikungnya, si terapis menggosokkan kedua telapak tangannya sampai menghasilkan panas dan kemudian ditempelkan ke perut kananku. Terasa hangat, nyaman, dan...kok ngantuk ya :D

Sepuluh menit selesai proses chikungnya, sekitar enam kali gosok tempel. Akhirnya aku keluar dari ruangan terapi dengan rasa nyaman. Terapi pertama selesai, CS-nya menyarankan untuk terapi setiap hari, berarti besok datang lagi.

Esok harinya datang lagi, dapat terapis cewek (ternyata istrinya terapis cowok yang kemarin). Kali kedua ini rasanya ternyata lebih luar biasa lagi. Sisa-sisa tusukan kemarin belum sembuh kini sudah ditusuk lagi, membuatku mulutku hampir tak pernah bisa menutup karena sibuk berkicau...aawww...auwww....aduh sakiiittt. Terapi sesi kedua berakhir dengan rasa lega (akhirnya selesai juga rasa sakitnya), tapi benar-benar membuatku 'takut' untuk datang lagi besok.

Ternyata esok harinya aku benar-benar tak berani datang. Selang satu hari baru datang lagi, pikirku mudah-mudahan tidak sesakit kemarin, ternyata....masih sakiiiiittt bangeeeettt, sampai keluar air mata (sedikit sih...). Terapi keempat, dua hari kemudian mulai sedikit berkurang rasa sakitnya. Terapi berikutnya sudah semakin berkurang rasa sakitnya, apalagi kalau dapat terapis yang senior.

Jam terbang memang tak bisa dibohongi. Tusukan senior dengan junior ternyata berbeda. Tangan senior bisa menusuk dengan tepat, dan tidak terlalu sakit karena cara menusuknya yang tidak langsung dengan tenaga penuh melainkan ditusuk dengan perlahan dan kemudian baru ditekan, sambil dipegang telapak kakinya dengan nyaman sehingga tidak terlalu nyeri. Cara memijatnya juga berbeda, telapak tangannya di tempelkan ke area yang dipijat baru kemudian ditekan, sedangkan si  junior cara memijatnya seperti memencet sehingga rasanya tidak nyaman.

Selesai satu paket hasilnya memang tidak luar biasa. Mungkin aku yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi karena terpengaruh iklan. Aku berharap ada keajaiban sehingga kistanya langsung hilang. Ternyata itu tidak terjadi. Kistanya masih tetap ada dan besarnya hampir tidak berkurang jika diraba. Namun hasil lainnya juga tidak dapat dipungkiri, bahwa aku merasa lebih sehat. Lambungku lebih nyaman, selera makanku bagus walaupun hanya makan sayur-sayuran dan lauk seadanya karena banyak sekali makanan pantangannya. Selain itu, tidurku juga lebih baik, setiap kali habis terapi aku selalu lebih cepat mengantuk dan tidur nyenyak.

Terapi berikutnya aku hanya ambil akupresurnya saja karena jujur saja aku merasa kurang puas dengan terapi chikungnya. Mungkin faktor sugesti juga berpengaruh, karena chikungnya hanya dilakukan terapis perempuan, dan kebetulan terapis perempuannya cuma satu dan masih junior (baru dua bulan), jadi aku merasa kurang yakin (sorii...). Oleh karena itu, daripada aku buang-buang uang, maka kuputuskan aku ambil akupresurnya saja.

Kista Mesentrium

Awal tahun dikejutkan dengan hasil pemeriksaan terhadap sebuah benjolan yang sudah setahunan ini bersarang di perut kanan. Karena tidak ada rasa sakit, maka benjolan itu tidak pernah kupikirkan apalagi kuperiksakan. Tapi entah kenapa hari itu aku tiba-tiba ingin menjumpai dokter.

Tanggal 7 Januari, mendaftarkan diri ke tempat praktik dr. Nadrizal, Sp.PD di Simpang Mangga. Diagnosa awalnya adalah Hepatomegalia (pembesaran hati?) dan diberi surat rujukan USG ke RS. Bratanata. Setelah menyerahkan tanda kasih Rp 100.000, aku pergi ke RS. Bratanata malam itu juga. Dapat info untuk puasa mulai jam 10 malam dan biaya USG Rp 170.000.

Esok harinya, pemeriksaan USG Abdomen oleh dr. A Rivai Soe'eb, Sp. Rad. Hasilnya tak sampai satu jam kemudian sudah bisa diambil. Karena dr. Nadrizal praktik di situ juga, maka sekalian aku mendaftarkan diri konsul ke beliau. Sambil menunggu jam buka praktik, menikmati semangkuk soto ayam depan RS. Theresia, dengan harga yang menurutku cukup mahal karena tidak sebanding dengan rasanya.

Konsul hanya beberapa menit saja karena hanya dua kalimat yang kuingat. Kalimat pertama, "Untung bukan Hepatoma, kalau Hepatoma saya angkat tangan." Kalimat kedua, "Operasi!". Selanjutnya adalah instruksi untuk menghadap dokter bedah.

Pulang dengan gontai. Sampai di rumah, baru kubaca hasil pemeriksaan USG Abdomen. Inilah hasilnya: sebelah medial dari ginjal kanan dan di bawah dari kandung empedu terdapat lesi kistik yang hipoechoic, batas tegas, dengan ukuran 7,73 cm, tak terlihat adanya turbulensi cairan. Kesimpulan: kista pada abdomen/kista mesentrium.

24 April 2013

Sigalovada Sutta

Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Rajagaha, di Vihara Hutan Bambu, di Kandakavinapa (Tempat Pemeliharaan Tupai). Pada waktu itu, Sigala, putra kepala keluarga, bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali ia menyembah ke berbagai arah, yaitu arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas. Dan Sang Bhagava pada pagi hari itu, setelah mengenakan jubah serta membawa mangkukNya, pergi ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan (pindapatta). Kemudian Sang Bhagava melihat Sigala, putera kepala keluarga itu menyembah ke berbagai arah dan bertanya :
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”
“Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah.”
Sang Buddha lalu berkata, “Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”
Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”
“O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
  • atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
  • atas dorongan kebencian (dosa gati),
  • atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
  • atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Tetapi karena para siswa Ariya tidak terseret oleh keempat dorongan-dorongan tersebut, maka ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat.”
Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”
“Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?” Yaitu :
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan,
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
  4. Gemar berjudi,
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
  6. Kebiasaan malas.
“O putera kepala keluarga, terdapat pula enam bahaya karena :
  1. Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
    • Kerugian harta secara nyata,
    • Bertambahnya pertengkaran,
    • Tubuh mudah terserang penyakit,
    • Kehilangan sifat yang baik,
    • Terlihat tidak sopan,
    • Kecerdasan menjadi lemah.
  2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:
    • Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
    • Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
    • Menjadi sasaran desas-desus palsu,
    • Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
  3. Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
    • Dimanakah ada tari-tarian,
    • Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
    • Dimanakah ada pertunjukan musik,
    • Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
    • Dimanakah ada permainan tambur,
    • Dimanakah ada permainan genderang.
  4. Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
    • Bila menang, ia memperoleh kebencian,
    • Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
    • Kerugian harta benda secara nyata,
    • Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
    • Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
    • Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
  5. Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari :
    • Setiap penjudi,
    • Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
    • Setiap pemabuk,
    • Setiap penipu,
    • Setiap orang yang kejam.
  6. Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:
    • ‘Terlalu dingin’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu panas’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu pagi’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Terlalu siang’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu lapar’ dan ia tidak bekerja,
    • ‘Aku terlalu kenyang’ dan ia tidak bekerja.
Dengan demikian semua yang harus ia kerjakan tetap tidak dikerjakan, harta kekayaan baru tidak ia peroleh dan harta kekayaan yang sudah ia miliki menjadi habis.”
Sang Buddha kemudian menerangkan :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak,
  2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
  3. Penjilat,
  4. Kawan pemboros.
Terdapat pula empat dasar yang menyebabkan orang yang seharusnya dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
  1. Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia tamak,
    • Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
    • Ia melakukan kewajibannya karena takut,
    • Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
  2. Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
    • Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
    • Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
    • Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
  3. Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menyetujui hal-hal yang salah,
    • Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
    • Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
    • Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
  4. Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
    • Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.”
Sang Bhagava lalu mengucapkan syair berikut :
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu :
  1. Sahabat penolong,
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah,
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
  4. Sahabat yang bersimpati.
Atas empat dasar inilah sahabat penolong harus dipandang berhati tulus:
  1. Sahabat penolong berhati tulus karena :
    - Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
    - Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
    - Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.
  2. Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
    - Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
    - Ia menjaga rahasia dirimu,
    - Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
    - Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu.
  3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
    - Ia mencegah engkau berbuat jahat,
    - Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
    - Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
    - Ia menunjukkan engkau jalan ke surga.
  4. Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
    - Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
    - Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
    - Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
    - Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
“O putera kepala keluarga, bagaimanakah caranya siswa Ariya melindungi enam arah itu?
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur,
  2. Para guru seperti arah Selatan,
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,
“AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :
  1. Ibu dan ayah seperti arah Timur.
    Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah
    Timur :
    - Aku harus merawat mereka,
    - Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
    - Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
    - Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
    - Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
    - Mencegah anaknya berbuat jahat,
    - Mendorong mereka berbuat baik,
    - Melatihnya dalam suatu profesi,
    - Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
    - Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  2. Para guru seperti arah Selatan.
    Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
    - Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
    - Dengan melayani mereka,
    - Dengan bersemangat untuk belajar,
    - Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
    - Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka. Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
    - Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
    - Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
    - Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
    - Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
    - Menjaga keselamatannya di semua tempat.
    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
    Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
    - Dengan menghormati,
    - Dengan bersikap ramah-tamah,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
    - Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya. Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan :
    - Mencintainya,
    - Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
    - Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
    - Dengan kesetiaan,
    - Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
    - Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.
    O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
    Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan :
    - Bermurah hati,
    - Berlaku ramah,
    - Memberikan bantuan,
    - Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
    - Berbuat sebaik ucapannya. Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan :
    - Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
    - Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
    - Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
    - Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
    - Mereka menghormati keluarganya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
    Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah :
    - Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
    - Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
    - Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
    - Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
    - Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu. Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara :
    - Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
    - Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
    - Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
    - Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
    - Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya.
    Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
  6. Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
    Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas :
    - Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
    - Dengan cinta kasih dalam perkataan,
    - Dengan cinta kasih dalam pikiran,
    - Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
    - Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu. Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka :
    - Mereka mencegah ia berbuat jahat,
    - Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
    - Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
    - Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
    - Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
    - Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.
    O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
    Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.”
    Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira :
    “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”

    http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sigalovada-sutta-2/ 

Popular Posts