| Ngaturaken ►► |
06 December 2022
28 October 2020
JEDA
Terkalahkan oleh hiruk pikuk media sosial, blog reot ini terlupakan, hampir tiga tahun ga pernah posting. Sesekali ingat kalau punya blog saat ada sms yang kebanyakan bertanya tentang hasil pengobatan alternatif yang pernah kucoba dulu sebelum memutuskan operasi. Tapi ya sekedar," Oh...ternyata masih ada yang baca blogku," dan tak punya tenaga untuk menulis lagi. Bukan tak punya tenaga sih sebenarnya, malas...lebih tepatnya. Karena selera berubah, sekarang lebih suka bicara lewat foto dan video.
Kelas 3 SD sudah membaca novel Siti Nurbaya, Anak Seorang Romusha, dan beberapa novel kelas berat lainnya, sehingga pernah bercita-cita jadi penulis. Ternyata sampai setua ini belum kesampaian. Nulis cuma sebatas status medsos.
Jaman dulu belum ada internet (listrik aja belum ada) di duniaku, nulisnya di diary warna-warni. Kenal komputer di STM, kenal internet jaman kuliah, kenal medsos jaman jadi guru. Komunikasi kembali dengan teman-teman STM waktu itu masih pake Milis (Mailing List) grup. Anak jaman now pasti ga ngerti Milis ya... Setelah itu ganti Yahoo Messenger untuk aplikasi chatting. Kemudian muncul Friendster FS), medsos paling hits kala itu, yang bisa ganti-ganti Theme dengan foto kita sendiri tapi harus pasang script. Buat yang sua nulis, Blog tentu saja adalah simbol eksistensi.
Sempat berjaya beberapa tahun, kemudian muncul Facebook (FB) dan akhirnya Friendster-pun tutup. FB-an sejak tahun 2009, dari jaman bahasa alay sampai bahasa kekinian masih bisa mengikuti. Inilah keuntungan dari bergaul dengan anak-anak (SMA), bisa cepat mengikuti perkembangan tren dunia maya. Berdampingan dengan aplikasi chatting milik Blackberry yang sempat berjaya kala itu, tapi kini sudah ditenggelamkan oleh aplikasi Whatsapp.
Sekarang, Facebook tak lagi diminati oleh remaja. FB hanya untuk kaum 'lansia' yang malas belajar aplikasi-aplikasi baru yang bermunculan. Remaja lebih suka Instagram yang lebih menjanjikan untuk kemudahan eksistensi diri, apalagi didukung dengan aneka macam filter kamera dan aplikasi editing foto yang sangat memanjakan nafsu mempercantik diri tanpa biaya. Popularitas adalah kekuatan pada masa kini. Follower yang banyak adalah modal untuk mendapatkan uang dari endorse dan influencer. Makanya Instagram (IG) menjadi segala-galanya bagi anak jaman now.
Jangan lupa dengan Twitter. Aplikasi ini bisa dibilang jadul tapi masih eksis sampai sekarang. Banyak dipakai oleh tokoh masyarakat dan politikus untuk menyampaikan pesan-pesannya dan respons terkait fenomena terbaru yang update sangat cepat. Saking cepatnya kadang...terjebak hoax.
Youtube sempat menjadi pemain tunggal di dunia per-video-an. Namun sekarang mulai banyak pesaing, salah satunya Vidio yang mirip-mirip dengan Youtube. Dan aplikasi belanja yang sangat banyak bermunculan dengan tagline dan kode warna masing-masing, ada toko hijau, toko orange, dll.
Game Online? Adalah salah satu yang sangat digandrungi jaman sekarang tanpa pandang usia. Anak-anak banyak yang sukses jadi game streamer.
Yah, demikianlah kehidupan masa sekarang. Dunia maya bukan hanya milik anak muda. Buktinya ada nenek-nenek yang sukses jadi Youtuber, Mbah Minto salah satunya yang sekarang sangat terkenal dan mengalami perubahan ekonomi yang luar biasa. Bayi-bayi juga banyak yang sukses menghasilkan uang dari dunia maya. Lalu posisi kita dimana?
Orang yang baru kenal internet (pemula/newbie) cenderung menggunakannya hanya untuk senang-senang, melihat-lihat sesuatu yang sebelumnya tak bisa dilihat (Apakah itu? Hmmm...). Pengguna di level menengah menggunakan internet untuk memperlancar pekerjaan. Pengguna level tinggi menggunakan internet untuk menghasilkan karya.
Bagiku? Internet sepenting nafas, bukan sekedar alat komunikasi, duniaku ada di dalam internet. Pekerjaanku ada di sana (Google Classroom, Edmodo untuk ngajar, Webex, Zoom, Google Meet untuk rapat-rapat, Youtube untuk sharing video dan cari tutorial, Online banking untuk terima gaji dan kemudian forward bayar tagihan, Drive untuk penyimpanan data, Facebook untuk baca cerpen, cerbung, nonton drakor, curhat alay, Instagram untuk pamer foto, Twitter untuk baca berita cepat, dan masih banyak lagi.
Apakah bisa berhenti menggunakan internet? Bisa. Seperti akhir-akhir ini, ketika mata sudah mulai bertambah rabun dan sakit saat bercengkrama dengan layar biru. Mau tak mau harus ambil JEDA. Bukan berhenti, hanya istirahat sejenak. Memandang cucian kotor, lantai berdebu, tanaman layu, dan aneka pemandangan lainnya.
Inilah hidup.
23 January 2018
Lelaki Hebat
12 September 2017
Dana Makanan
🌺 DANA MAKANAN 🌺
Suatu ketika, Bhagava tengah berdiam di antara kaum Koliya, di sebuah kota yang disebut Sajjanela. Suatu pagi Bhagava mengenakan jubah, membawa mangkuk dan jubah luarnya, lalu pergi menuju kekediaman Suppavasa, seorang perempuan Koliya. Setelah tiba di sana, Beliau duduk di tempat duduk yang telah disiapkan bagiNya. Sang perempuan Koliya, Suppavasa, melayani Bhagava dan menghidangkan aneka jenis makanan lezat.
Seusai Bhagava makanNya dan telah menjauhkan tanganNya dari mangkuk, sang perempuan Koliya, Suppavasa, duduk di satu sisi, dan Bhagava berkata kepadanya seperti berikut:
“Suppavasa, dengan memberikan makanan, seorang siswa suci perempuan memberikan empat hal kepada mereka yang menerimanya. Apakah keempat hal itu? Ia memberikan usia panjang, kerupawanan, kebahagiaan, serta kekuatan.
Dengan memberikan usia panjang, ia sendiri akan terkaruniai usia panjang, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kerupawanan, ia sendiri akan terkaruniai kerupawanan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kebahagiaan, ia sendiri akan terkaruniai kebahagiaan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan kekuatan, ia sendiri akan terkaruniai kekuatan, manusiawi atau dewata. Dengan memberikan makanan, seorang siswa suci perempuan memberikan keempat hal tersebut kepada mereka yang menerimanya.”
(Aṅguttara Nikaya 4:57, II 62-63)
Betapa mengagumkannya penjelasan dari Buddha kepada Suppavasa tentang persembahan makanan. Persembahan makanan sangat dipuji, karena pendonor dan penerima akan mendapat empat hal seperti yang telah disebutkan dalam sutta di atas, yaitu:
Usia panjang (ayu)
Kerupawanan (vanna)
Kebahagiaan (sukham)
Kekuatan (balam)
Jadi bagi mereka yang ingin mencapai empat hal tersebut sebaiknya melakukan persembahan makanan secara rutin baik kepada Bhikkhu Saṅgha, atau siapapun yang mau menerimanya, bahkan, janganlah meremehkan buah dari menyendokkan sesendok nasi untuk orang tua atau saudara anda. Persembahan makanan juga bisa membawa tercapainya cita-cita luhur. Di masa lampau pada masa Sasana Buddha Kassapa yaitu Buddha yang muncul sebelum Buddha kita sekarang, Buddha Gotama. Cerita tersebut diawali dari sepasang suami-istri.
Ketika sebuah pagoda (Stupa) dibangun untuk menyimpan relik Buddha Kassapa, laki-laki dan perempuan dari Baranasi pergi dalam kelompok-kelompok besar menuju tempat pagoda itu dibangun untuk menyumbangkan tenaga sambil membawa makanan dalam kereta-kereta mereka. Dalam perjalanan itu mereka berjumpa dengan seorang Thera yang memasuki kota untuk menerima derma makanan.
Pada saat itu, sang istri memerhatikan sang Thera dan memberitahu suaminya, “Suamiku, Thera ini sedang menerima derma makanan; pergilah ambil mangkuknya agar kita dapat mendanakan sesuatu kepadanya; kita membawa banyak makanan di dalam kereta kita.” Laki-laki itu pergi dan mengambil mangkuk bhikkhu tersebut dan setelah mengisinya dengan makanan keras dan lunak hingga penuh, mereka mengembalikannya kepada sang Thera dan kedua suami istri tersebut mengucapkan keinginan mereka,
“Thera yang mulia, berkat jasa ini, semoga kami berdua terberkahi dengan pengetahuan adi duniawi yang telah engkau capai.”
Penerima dana makanan itu bukanlah seorang bhikkhu biasa; ternyata beliau adalah seorang Arahanta. Ia mengetahui, melalui Anagata Ñana, pengetahuan akan masa depan, bahwa keinginan mereka akan terpenuhi dan oleh karena itu ia tersenyum bahagia. Si perempuan sekilas menangkap senyum itu dan ia berbisik, “Suamiku, si Thera yang menerima dana kita mungkin seorang aktor.” Si suami menyetujui dengan berkata, “Ya, ia mungkin seorang aktor.” Kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Inilah perbuatan yang dilakukan oleh suami istri itu pada masa lampau.
Pasangan itu hidup hingga akhir umur kehidupan mereka dan kemudian terlahir di alam dewa. Setelah menikmati kehidupan sebagai dewa, si istri terlahir kembali sebagai putri pemimpin akrobat dalam kehidupannya sekarang. Sedangkan si suami terlahir sebagai putra seorang kaya dalam kelahirannya yang terakhir, bernama Uggasena.
Meskipun terlahir sebagai putra seorang kaya, ia harus mengikuti kelompok pemain akrobat dalam pengembaraannya, sebagai akibat dari perbuatan jahatnya mengucapkan kata-kata yang salah “Ya, ia mungkin seorang aktor” yang ditujukan kepada Bhikkhu Arahanta dalam kehidupan lampau. Tetapi sebagai akibat atas kebajikan memberikan dana makanan kepada seorang Arahanta dengan penuh keyakinan, ia berhasil mencapai kesucian Arahanta.
Ketika Uggasena mencapai kesucian Arahanta dan menjadi “ehi-bhikkhu“, istrinya, si aktris muda berpikir, disadarkan oleh jasa kebajikan masa lampau, “Secerdas apa pun suamiku, kecerdasanku harus menyamainya.” Dengan alasan demikian, ia mendatangi para bhikkhuni dan menerima penahbisan dari mereka. Kemudian ia berusaha keras mempraktikkan Dhamma, dan akhirnya ia juga berhasil mencapai kesucian Arahanta, setelah melenyapkan asava (kotoran batin).
Kita juga bisa meneladani pasangan suami-istri tersebut. Dengan rajin melakukan persembahan makanan kepada Bhikkhu Saṅgha dan kepada siapapun yang membutuhkan persembahan kita. Maka kita akan berbahagia dalam masa yang panjang, baik di alam manusia ataupun dewa. Kita akan berkecukupan dan menikmati empat kualitas tersebut hingga terbebasnya kita dari roda tumimbal lahir ini dengan mencapai tingkat kesucian Arahat. Walau tentu selain berdana ada tahap-tahap lain yang perlu kita tunaikan untuk dapat menikmati Buah Arahanta.
Apa yang anda cita-citakan?
Semoga cita-cita luhur anda dan saya segera tercapai.
____________________________
Semoga anda mencapai kebahagiaan Nibbana
Forwad BC Dhamma ini kesemua teman Buddhist anda melalui FB, Wa, etc
Karena persembahan Dhamma adalah persembahan tertinggi.
Persembahan Dhamma akan berbuah kebijaksanaan bagi pemberi dan penerima
Semoga kita semua hidup bahagia. 🙏🏻.
07 September 2017
Dhammapada ayat 71 tentang orang bodoh
BAB V. BALAVAGGA - Orang Bodoh.
(71). Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.
Dhammapada Atthakatha:
(71) Kisah Ahipeta.
Murid utama Sang Buddha, Maha Moggallana Thera sedang dalam perjalanan untuk menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera di Rajagaha. Ketika melihat sesuatu, beliau tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Setelah tiba di vihara, Maha Moggallana Thera memberitahu Lakkhana Thera, bahwa beliau tersenyum karena melihat makhluk peta (hantu kelaparan) dengan kepala manusia dan bertubuh ular.
Sang Buddha kemudian berkata bahwa beliau sendiri telah melihat makhluk peta tersebut pada saat Beliau mencapai Penerangan sempurna. Sang Buddha juga menerangkan bahwa di waktu yang lampau, ada seorang Paccekabuddha yang dihormati oleh banyak orang. Orang-orang pergi mengunjungi pondok kediaman beliau harus melalui sebuah ladang. Pemilik ladang tersebut khawatir ladangnya akan rusak disebabkan oleh banyak orang lalu lalang pergi ke pondok, membakar pondok itu. Akibatnya Paccekabuddha itu harus berpindah ke tempat lain. Murid-murid Paccekabuddha menjadi sangat marah kepada pemilik ladang tersebut, mereka memukuli dan membunuhnya.
Pemilik ladang itu dilahirkan kembali di neraka Avici. Kelahirannya saat sekarang ini sebagai makhluk setan, merupakan akibat dari perbuatan buruk yang telah ia lakukan pada masa lampau.
Pada akhir penjelasannya, Sang Buddha berkata, "Sebuah perbuatan buruk tidak langsung berbuah, tetapi akan selalu mengikuti si pembuat kejahatan. Tidak ada yang dapat melarikan diri dari akibat perbuatan jahat."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:
"Na hi pāpaṃ kataṃ kammaṃ
sajju khīraṃva muccati
dahantaṃ bālam-anveti
bhasmacchanno’va pāvako."
Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.
Šαϑhΰ...Šαϑhΰ...Šαϑhΰ...
11 August 2017
Kotbah tentang Paticcasamuppada
(Kelompok Khotbah tentang Penyebab)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kalian tentang kemunculan bergantungan. Dengarkan dan perhatikanlah, Aku akan berbicara.”—“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Dan apakah, para bhikkhu, kemunculan bergantungan?
*Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak muncul ;
*dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran muncul;
*dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-rupa;
*dengan nama-dan-rupa sebagai kondisi, enam landasan indria muncul ;
*dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak muncul;
*dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul;
*dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul;
*dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul;
*dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul;
*dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul;
*dengan kelahiran sebagai kondisi, penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul.
Demikianlah asal-mula dari keseluruhan kumpulan penderitaan. Ini, para bhikkhu, disebut kemunculan bergantungan."
-“Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak;
-dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, lenyap pula kesadaran;
-dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula nama-dan-rupa;
-dengan lenyapnya nama-dan-rupa, lenyap pula enam landasan indria;
-dengan lenyapnya enam landasan indria, lenyap pula kontak;
-dengan lenyapnya kontak, lenyap pula perasaan;
-dengan lenyapnya perasaan, lenyap pula ketagihan;
-dengan lenyapnya ketagihan, lenyap pula kemelekatan;
-dengan lenyapnya kemelekatan, lenyap pula penjelmaan;
-dengan lenyapnya penjelmaan, lenyap pula kelahiran;
-dengan lenyapnya kelahiran, lenyap pula penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan.
Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”
Ini adalah apa yang dibabarkan oleh Sang Bhagavā.
Para bhikkhu itu gembira , senang mendengar ajaran Sang Bhagavā.
--------------
Inilah Pelajaran Paticcasamuppada 12 atau 12 Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan.
Hukum di atas ini disebut Makhluk. Karena Hukum ini berada dalam diri Makhluk.
Semoga kita semua terbebas dari Hukum ini sehingga mencapai Kebebasan Mutlak atau Nibbana.
"NIBBANAM PARAMAM SUKHAM" : Nibbana adalah Kebahagiaan Tertinggi. Sadhu🙏.
04 February 2017
Surga kecil itu bernama Pasumpahan

12 October 2015
08 September 2015
12 August 2015
Hari Kemerdekaan
01 May 2015
My Achievement: Bisnis Mudah CMN Moorflie
- Setiap kelipatan 1 juta dapat 1 pcs Toples Vaso (warnanya Ok banget...Ungu-pink, dapat 9 biji, hmm lumayan buat Waisak nanti dipamerin di meja tamu)
- Setiap kelipatan 1,75 juta dapat Voucher Rp140.000 (dapat 5 Voucher = Rp 700.000. Berarti udah balik modal dong ya...)
- Bulan April berhasil rekrut 3 orang, dapat hadiah 3 medium bowl....asyeekk.
- Karena memberku udah 4 orang, maka aku bisa jadi Head. So...bulan depan sudah berhak menikmati bonus 1,5% dari omset seluruh memberku (lumayan buat jajan)
25 February 2015
Tahun Baru yang Tertunda
19 February 2014
CTScan Abdomen di RSD Raden Mattaher
Rujukan ke RSD Raden Mattaher
Rujukan ke RSU Abdul Manaap
13 February 2014
Akupresur Hokian Shaolin Shi
Kista Mesentrium
12 October 2013
24 April 2013
Sigalovada Sutta
“O Putera kepala keluarga, mengapa engkau bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha, dengan rambut dan pakaian basah sambil ber-anjali, engkau menyembah ke berbagai arah, yaitu ke arah Timur, Selatan, Barat, Utara, bawah dan atas?”
“Yang Mulia, ketika ayahku menjelang wafat, beliau berkata kepadaku untuk menyembah ke enam arah. Demikianlah Yang Mulia, karena menghormati, mengindahkan, menjunjung dan menganggap suci kata-kata ayah itulah, maka saya bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan Rajagaha. Dengan rambut dan pakaian basah, sambil ber-anjali, saya menyembah ke enam arah.”
Sang Buddha lalu berkata, “Tetapi anakKu, dalam agama seorang Ariya enam arah itu tidak seharusnya disembah dengan cara demikian.”
Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :
“Yang Mulia, bagaimanakah seharusnya seorang Ariya menyembah ke enam arah itu? Alangkah baiknya apabila Sang Bhagava berkenan mengajarkan kepada saya, ajaran yang menguraikan caranya menyembah ke enam arah itu sesuai dengan agama seorang Ariya.”
“O putera kepala keluarga, dengarkan dan perhatikan dengan baik kata-kataKu ini. Karena siswa Ariya telah menyingkirkan empat kekotoran tingkah laku (kammakilesa), karena ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat (papakamma) yang didasari oleh empat dorongan, karena ia tidak mengejar enam saluran yang memboroskan kekayaan, maka dengan menjauhi (nasevati) empat belas hal buruk ini, ia adalah seorang pengayom enam arah itu, seorang penakluk (vijaya), yaitu ia akan sejahtera dalam alam ini dan alam berikutnya. Pada saat penghancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga. Apakah empat kekotoran tingkah laku yang telah ia singkirkan itu? Yaitu membunuh makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berzinah dan berbohong. Apakah empat dorongan yang mendasari perbuatan-perbuatan jahat yang tidak ia lakukan?
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan :
- atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
- atas dorongan kebencian (dosa gati),
- atas dorongan ketidak-tahuan (moha gati), dan
- atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
Kemudian Sang Buddha menerangkan lebih lanjut :
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian atau ketidak-tahuan atau ketakutan telah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya akan menjadi pudar, bagaikan bulan yang susut pada masa bulan gelap.”
“Siapa pun yang karena rasa senang sepihak atau kebencian, atau ketidak-tahuan atau ketakutan tidak pernah melanggar Dhamma, maka nama baik dan kemashyurannya menjadi sempurna dan penuh, bagaikan bulan purnama pada masa bulan terang.”
“Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu?” Yaitu :
- Gemar minum minuman yang memabukkan,
- Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
- Mengejar tempat-tempat hiburan,
- Gemar berjudi,
- Bergaul dengan teman-teman jahat,
- Kebiasaan malas.
- Gemar minum minuman yang memabukkan, yaitu :
- Kerugian harta secara nyata,
- Bertambahnya pertengkaran,
- Tubuh mudah terserang penyakit,
- Kehilangan sifat yang baik,
- Terlihat tidak sopan,
- Kecerdasan menjadi lemah.
- Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas, terdapat enam bahayanya, yaitu:
- Dirinya sendiri tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Anak isterinya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Harta kekayaannya tidak terjaga dan tidak terlindung,
- Ia dapat dituduh sebagai pelaku kejahatan-kejahatan yang belum terbukti,
- Menjadi sasaran desas-desus palsu,
- Ia akan menjumpai banyak kesulitan.
- Mengejar tempat-tempat hiburan, bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berpikir :
- Dimanakah ada tari-tarian,
- Dimanakah ada nyanyi-nyanyian,
- Dimanakah ada pertunjukan musik,
- Dimanakah ada pembacaan deklamasi,
- Dimanakah ada permainan tambur,
- Dimanakah ada permainan genderang.
- Gemar berjudi, bahaya-bahayanya adalah :
- Bila menang, ia memperoleh kebencian,
- Bila kalah, ia kehilangan harta kekayaannya,
- Kerugian harta benda secara nyata,
- Di pengadilan kata-katanya tidak berharga,
- Ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah,
- Ia tidak disukai oleh orang-orang yang akan mencari menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang isteri.
- Bergaul dengan teman-teman jahat, bahaya-bahayanya adalah ia menjadi teman dan sahabat dari :
- Setiap penjudi,
- Setiap orang yang gemar berfoya-foya,
- Setiap pemabuk,
- Setiap penipu,
- Setiap orang yang kejam.
- Kebiasaan menganggur (malas), bahaya-bahayanya adalah ia akan selalu berkata:
- ‘Terlalu dingin’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu panas’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu pagi’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Terlalu siang’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Aku terlalu lapar’ dan ia tidak bekerja,
- ‘Aku terlalu kenyang’ dan ia tidak bekerja.
Sang Buddha kemudian menerangkan :
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, yaitu :
- Orang yang tamak,
- Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
- Penjilat,
- Kawan pemboros.
- Orang yang tamak, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia tamak,
- Ia memberi sedikit dan meminta banyak,
- Ia melakukan kewajibannya karena takut,
- Ia hanya ingat akan kepentingannya sendiri.
- Orang yang banyak bicara, tetapi tidak berbuat sesuatu apapun, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang lampau,
- Ia menyatakan persahabatan berkenaan dengan hal-hal yang mendatang,
- Ia berusaha untuk mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong,
- Bila ada kesempatan untuk membantu ia mengatakan tidak sanggup.
- Penjilat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menyetujui hal-hal yang salah,
- Ia tidak menganjurkan hal-hal yang benar,
- Ia akan memuji dirimu dihadapanmu,
- Ia berbicara jelek tentang dirimu dihadapan orang-orang lain.
- Kawan pemboros mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar akan minum minuman keras,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau sering berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau mengejar tempat-tempat hiburan dan pertunjukkan,
- Ia menjadi kawanmu apabila engkau gemar berjudi.”
“Sahabat yang selalu mencari apa-apa untuk diambil, sahabat yang kata-katanya berlainan dengan perbuatannya, sahabat yang menjilat, lagi pula hanya berusaha membuat engkau senang, sahabat yang gembira dengan cara-cara jahat. Empat ini adalah musuh-musuh. Setelah menyadarinya demikian, biarlah orang bijaksana menghindari mereka dari jauh, seakan mereka jalan yang berbahaya dan menakutkan.”
“O putera kepala keluarga, terdapat empat macam sahabat yang harus dipandang berhati tulus (suhada), yaitu :
- Sahabat penolong,
- Sahabat pada waktu senang dan susah,
- Sahabat yang memberi nasehat yang baik,
- Sahabat yang bersimpati.
- Sahabat penolong berhati tulus karena :
- Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,
- Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,
- Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan. - Sahabat pada waktu senang dan susah berhati tulus karena :
- Ia menceritakan rahasia-rahasia dirinya kepadamu,
- Ia menjaga rahasia dirimu,
- Ia tidak akan meninggalkan dirimu sewaktu engkau berada dalam kesulitan
- Ia bahkan bersedia mengorbankan hidupnya demi kepentinganmu. - Sahabat yang memberi nasehat yang baik, berhati tulus karena :
- Ia mencegah engkau berbuat jahat,
- Ia menganjurkan engkau untuk berbuat yang benar,
- Ia memberitahukan apa yang belum engkau pernah dengar,
- Ia menunjukkan engkau jalan ke surga. - Sahabat yang bersimpati, berhati tulus karena :
- Ia tidak bergembira atas kesengsaraanmu,
- Ia merasa senang atas kesejahteraanmu,
- Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu,
- Ia membenarkan orang lain yang memuji dirimu.
Enam arah itu harus dipandang sebagai berikut :
- Ibu dan ayah seperti arah Timur,
- Para guru seperti arah Selatan,
- Isteri dan anak-anak seperti arah Barat,
- Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara,
- Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah,
- Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas,
- Ibu dan ayah seperti arah Timur.
Ada lima cara seorang anak harus memperlakukan orang tuanya seperti arah
Timur :
- Aku harus merawat mereka,
- Aku akan memikul beban kewajiban-kewajiban mereka,
- Aku akan mempertahankan keturunan dan tradisi keluarga,
- Aku akan menjadikan diriku pantas menerima warisan,
- Aku akan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan upacara agama setelah mereka meninggal dunia Dalam lima cara inilah, orang tua yang diperlakukan demikian oleh seorang anak seperti arah Timur, menunjukkan kecintaan mereka kepadanya dengan:
- Mencegah anaknya berbuat jahat,
- Mendorong mereka berbuat baik,
- Melatihnya dalam suatu profesi,
- Mencarikan pasangan (suami/isteri) yang pantas,
- Pada waktu yang tepat, mereka menyerahkan warisan kepada anaknya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang anak memperlakukan orang tuanya seperti arah Timur. Dalam lima cara inilah orang tua menunjukkan kecintaan mereka kepadanya. Demikianlah arah Timur ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Para guru seperti arah Selatan.
Ada lima cara siswa-siswa harus memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan :
- Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
- Dengan melayani mereka,
- Dengan bersemangat untuk belajar,
- Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
- Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka. Dalam lima cara inilah, guru-guru yang diperlakukan demikian oleh siswa-siswa mereka seperti arah Selatan, akan mencintai siswa-siswanya dengan:
- Melatihnya sedemikian rupa sehingga ia selalu baik,
- Membuatnya menguasai apa yang telah diajarkan,
- Mengajarnya secara menyeluruh dalam berbagai ilmu dan seni,
- Berbicara baik tentang dirinya di antara sahabat-sahabatnya dan kawan-kawannya,
- Menjaga keselamatannya di semua tempat.
O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah siswa-siswa memperlakukan guru-guru mereka seperti arah Selatan. Dalam lima cara inilah guru-buru mencintai siswa-siswa mereka. Demikianlah arah Selatan ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.
Dengan lima cara seorang isteri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat :
- Dengan menghormati,
- Dengan bersikap ramah-tamah,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepadanya,
- Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepadanya. Dengan enam cara inilah, seorang isteri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat dengan :
- Mencintainya,
- Menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik,
- Bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak,
- Dengan kesetiaan,
- Dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya,
- Pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung-jawabnya.
O putera kepala keluarga, dengan lima cara inilah seorang suami memperlakukan isterinya seperti arah Barat. Dalam enam cara inilah seorang isteri mencintai suaminya. Demikianlah arah Barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.
Dengan lima cara seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara dengan :
- Bermurah hati,
- Berlaku ramah,
- Memberikan bantuan,
- Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan dirinya sendiri,
- Berbuat sebaik ucapannya. Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah Utara, mencintainya dengan :
- Mereka melindunginya sewaktu ia lengah,
- Mereka melindungi harta miliknya sewaktu ia lengah,
- Mereka menjadi pelindung sewaktu ia berada dalam bahaya,
- Mereka tidak akan meninggalkannya sewaktu ia sedang dalam kesulitan,
- Mereka menghormati keluarganya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawannya seperti arah Utara. Dalam lima cara inilah sahabat-sahabat dan kawan-kawan mencintainya. Demikianlah arah Utara ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah bawah.
Dalam lima cara seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah :
- Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
- Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
- Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
- Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidupnya,
- Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu. Dalam lima cara inilah, o putera kepala keluarga, pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan yang diperlakukan demikian oleh majikan seperti arah bawah, akan mencintainya dengan cara :
- Mereka bangun lebih pagi daripadanya,
- Mereka merebahkan diri untuk beristirahat setelahnya,
- Mereka puas dengan apa yang diberikan kepada mereka,
- Mereka melakukan kewajiban-kewajiban mereka dengan baik,
- Dimanapun mereka berada mereka akan memuji majikannya, memuji keharuman namanya.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawannya seperti arah bawah. Dalam lima cara inilah pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan mencintainya.
Demikianlah arah bawah ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya. - Guru-guru agama dan brahmana-brahmana seperti arah atas.
Dalam lima cara seorang warga keluarga harus memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas :
- Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
- Dengan cinta kasih dalam perkataan,
- Dengan cinta kasih dalam pikiran,
- Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
- Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu. Dalam enam cara inilah, o putera kepala keluarga, para pertapa dan brahmana yang diperlakukan demikian oleh seorang warga keluarga seperti arah atas, akan menunjukkan kecintaan mereka :
- Mereka mencegah ia berbuat jahat,
- Mereka menganjurkan ia barbuat baik,
- Mereka mencintainya dengan pikiran penuh kasih sayang,
- Mereka mengajarkan apa yang belum pernah ia dengar,
- Mereka membenarkan dan memurnikan apa yang pernah ia dengar,
- Mereka menunjukkan ia jalan ke surga.
O putera kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang warga keluarga memperlakukan para pertapa dan brahmana seperti arah atas. Dalam enam cara inilah para pertapa dan brahmana menunjukkan kecintaan mereka kepadanya.
Demikianlah arah atas ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.”
Setelah Beliau selesai berkata demikian, Sigala, putera kepala keluarga itu, berkata dengan amat gembira :
“Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sungguh mengagumkan, Yang Mulia! Sama halnya seperti seseorang menegakkan kembali apa yang telah roboh, memperlihatkan apa yang tersembunyi, menunjukkkan jalan benar kepada yang tersesat, atau memberikan cahaya dalam kegelapan, agar mereka yang mempunyai mata dapat melihat benda-benda di sekitarnya. Demikian pula, dengan berbagai macam cara Dhamma telah dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada saya. Dan sekarang, Yang Mulia, saya menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha. Semoga Yang Mulia berkenan menerima saya sebagai seorang upasaka, yang sejak hari ini sampai selama-lamanya telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma serta Sangha.”
http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/sigalovada-sutta-2/
23 January 2013
Popular Posts
-
Buat yang butuh soal-soal latihan agama Buddha dalam format pilihan ganda, silahkan unduh... Kelas X Semester 1 Kelas X Semester 2 Kelas ...
-
Soal-soal ujian semester ganjil mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk SMP Kelas VII Kelas VIII Kelas IX
-
Kompetensi Dasar 1.2 Pluralisme, Inklusivisme, Toleransi dan Tujuan Hidup Menurut Agam Buddha Pengertian dan Ciri Khas Agama Buddha I...
-
Meditasi ada dua macam yaitu : 1) Samatha bhavana Samatha bhavana adalah meditasi ketenangan batin. Meditasi ini dilakukan dengan memusatk...
-
1. Jelaskan definisi Buddha! 2. Jelaskan Definisi Bodhisatva! 3. Jelaskan definisi Arahat! 4. Sebutkan macam-macam Buddha! 5. Sebutkan macam...

























.jpg)